September 03, 2005

Gara-gara Nila 4 Titik

Pemboman menyebabkan serangan terhadap kaum muslim di Inggris naik enam kali lipat. Warga kini trauma terhadap tas. Dimana peran media?

Nick Sophocleous sedang merapikan kamar, ketika pacarnya menelpon. Si pacar beberapa waktu lalu keluar membeli bahan sarapan, dan kini tak bisa kembali ke kamar karena polisi menutup areal flat. Nick, mantan polisi yang kini kameramen dan fotografer amatir segera mengintip lewat jendela. Polisi bersenjata lengkap ada dimana-mana. Meski tak tau apa yang terjadi, nalurinya mendorong sebuah reaksi. Meraih handycam, yang ternyata baterenya habis. Frustrasi pun segera menyergapnya.

Sambil men-cas batere kamera, ia mengintip dan terus berdoa semoga sesuatu yang bakal terjadi, menunggu ia selesai mengisi batere. Dua puluh menit berlalu, ia yakin kamera sudah berfungsi. Tepat kamera menyala, diseberang, ia melihat dua pria keluar kamar dengan tangan terangkat, dengan polisi bersenjata terkokang disekelingnya.

Ia terus merekam, sambil berjaga agar polisi tidak melihatnya. Drama pagi itu berakhir. Tapi Nick tetap harus terkurung, karena polisi masih menjaga areal penggerebekan tetap bersih. Ia mengemail BBC, ITV, dan Sky News, tiga stasiun televisi berbasis London. Ia meyakinkan mereka, bahwa gambar ini adalah peristiwa besar. Sky News, stasiun televisi kabel sistem berbayar, memberi tawaran tertinggi. Tapi karena Nick tidak suka kepada dominasi raja media Rupert Murdoch, ia memilih ITV yang memberi harga 60 ribu Pound (kl 1 Milyar rupiah).

Singkat cerita, video itu pun tiba di studio ITV. Gambar Mukhtar Said Ibrahim dan Ramzi Muhammad, sedang bertelanjang dada mengangkat tangan tinggi tanda menyerah. Mukhtar dan Ramzi, adalah dua tersangka pengeboman tube yang gagal, tanggal 21 Juli. Tersangka lainnya, Yasin Hassan Omar dan Hussain Usman, sudah tertangkap lebih dulu.

Esoknya, koran-koran pun menyajikan gambar itu. Sejumlah media mulai tidak bisa menahan diri. The SUN, yang sejak awal mulai menyerempet, kini terang-terangan. Cover depannya bertulis “Got the Bastard” diatas foto penangkapan tadi. Daily Express tampil dengan “Thank God”, dan “Got Them” di Daily Mirror.

Sorotan media terhadap kasus terorisme ini, berdampak luas pada kehidupan kaum muslim di seantero Inggris. Kasus kejahatan berbasis agama meningkat tajam hanya dalam sebulan. Polisi menerima pengaduan sebanyak 269 kasus, mulai dari serangan verbal sampai pengrusakan tempat ibadah. Jumlah ini naik 600 persen dibanding tahun sebelumnya yang hanya 40 kasus. Bahkan dalam 3 hari setelah serangan 7/7, polisi menerima pengaduan 68 kasus. Mesjid The Mazhirul Ulum, yang berdiri megah di Mile End, London Timur, kawasan yang banyak dihuni komunitas muslim Bangladesh dan Pakistan, dilempari hingga 19 jendelanya pecah. Juga mesjid di daerah-daerah dengan jumlah komunitas muslim besar, seperti Leeds dan Bradford. Di Norwich sendiri, jendela mesjid milik komunitas Bangladesh pecah karena dilempar oleh dua perempuan mabuk. Mesjid ini memang rawan pengurusakan, sebab terselip di kawasan dugem Norwich, diantara gedung-gedung hiburan, pub dan amusement.

Tak hanya kaum muslim. Dua orang Asia non-muslim, diserang secara fisik di Edinburg, Skotlandia. Penyerang mengaku menuntut balas atas serangan bom London. Ini menyiratkan peningkatan kejahatan rasisme ini tidak melulu soal agama, tapi juga menyangkut irihati terhadap imigran. Satu dari dua anggota DPR partai Buruh yang beragama Islam, Sadiq Khan menyatakan, penyerangan akan terus meningkat. Sebab warga Inggris mengunakan kasus bom London hanya sebagai pembenaran utnuk menuntaskan rasa tidak senangnya kepada imigran dan warga Muslim.

Kasus terorisme ini memang membuat trauma warga dan pemerintah Inggris. Apalagi, saat investigasi kasus pertama 7/7 sedang hangat-hangatnya, Inggris nyaris dihajar kejadian serupa dua pekan kemudian. Saat ini, London khususnya, bersiaga penuh. Polisi bersenjata lengkap mudah ditemukan dimana-mana, terutama stasiun tube.

Mereka juga trauma terhadap tas dan ransel. Pengumuman agar tidak meninggalkan tas sembarangan ditempel di banyak tempat. Sekali waktu di terminal bis Victoria London, aku mendengar pengumuman rencana pemindahan dan pengrusakan koper yang diletakkan di ruang tunggu. Rupanya sebelum pengumuman itu, sudah beberapa kali ada panggilan agar pemilik tas segera mengakui dan menjaga tas itu.

Sebulan setelah ledakan 7/7, puluhan penumpang bus tingkat jalur 205 yang sedang melintas di Gray’s Inn Road, dekat King’s Cross –salah satu stasiun tempat kereta meledak—berhamburan. Karena tiba-tiba asap memenuhi ruang penumpang. Polisi pun sigap menutup jalan dan mengevakuasi penumpang. Pasukan anti bom pun berdatangan. Ternyata, asap itu berasal dari kerusakan mesin. Trauma itu menyebabkan tas berserak dimana-mana, karena ditinggal demi menyelamatkan jiwa, juga seorang perempuan patah pergelangan kaki karena berebutan turun.

Yasmin Alibhai-Brown, kolumnis perempuan muslim asal Uganda, menuliskan pengalamannnya di majalah Time, pernah melihat lima penumpang tube segera turun lagi, hanya karena seorang mahasiswa asal Sudan masuk ke gerbong yang sama. Yasmin, doktor dari Oxford yang banyak menulis buku tentang rasisme ini, juga menceritakan kisah sahabatnya yang ditolak naik ke bus hanya karena supir tidak suka melihat ia membawa tas besar.

Perlakuan macam ini memang memicu kebencian mendalam bagi warga muslim. Sehingga tulis Yasmin, ia meminta anaknya seorang pengacara yang menikah dengan perempuan Inggris, agar bersabar. Anaknya itu potensil diperiksa oleh polisi, sebab ia berwajah arab. Yasmin meminta anaknya tidak emosi, berdebat, apalagi lari menghindar. Mungkin Yasmin belajar dari pengalaman Jean Charles de Menezes, pemuda Brazil yang ditembak mati karena menghindar dari polisi.

Kepanikan juga melanda pemerintah Inggris. Inggris yang selama ini dituding Amerika dan Uni Eropa sebagai negara yang membiarkan teroris berbiak, mulai berbalik. Omar Bakri Muhammad, warga Yordania yang di negaranya hendak ditangkap, justru menjadi warga Inggris. Ia adalah pentolan Hizbut Thahrir, dan pendiri organisasi Al Muhajirun. Kini, Omar yang sedang berada di Yordania terancam tidak bisa kembali karena aturan baru tentang anti-terorisme. Padahal bulan depan, ia sudah dijadwalkan untuk operasi jantung di rumah sakit Inggris. Koran The SUN segera sigap mengompori, dengan menyebut Omar sebagai “parasit” yang memperoleh benefit dari pemerintah Inggris, tapi sekaligus merusak sendi kehidupan Inggris.

Selain Omar, Inggris juga membiarkan Abu Uzair, Abu Izzadin, dan Abu Qatada hidup dengan damai. Mereka bebas mendirikan organisasi berbasis Islam, tapi kini semuanya terancam diusir. Izzadin, juru bicara Al-Ghuraba, memperoleh stempel kebencian karena menganggap bom bunuh diri adalah sesuatu yang patutu diacungi jempol. Abu Uzair, pendiri Saviour Sect yang merupakan sempalan Al Muhajirun menyatakan, “pelarangan hanya akan meningkatkan semangat jihad”.

Sementara mereka masih terancam pengusiran, Abu Qatada sudah ditangkap. Namun pemerintah berkilah, Qatada, yang dikenal sebagai Dutabesar Al Qaida di Eropa, ditangkap karena pelanggaran aturan keimigrasian.

Pemerintah dan media memang berlaku hati-hati dalam urusan terorisme ini. Selain karena aturan hak-hak sipil yang ketat, juga kekhawatiran peningkatan serangan balasan terhadap kaum muslim yang akan bermuara pada pembalasan dendam lebih dahsyat. Hanya beberapa hari setelah koran-koran menulis secara miring penangkapan Mukhtar Said Ibrahim dan Ramzi Muhammad, organisasi hak sipil Liberty langsung melayangkan protes kepada Dewan Pers Inggris. Menurut direkturnya, Shami Chakrabarty, pers telah menghakimi tersangka diluar pengadilan resmi.

Tampaknya Inggris sadar, sikap permusuhan berlebihan terhadap kaum muslim hanya akan mengundang tindakan balasan yang tak terduga. Sebab sejauh ini, alur pemeriksaan tersangka bom justru membuat polisi frustrasi. Sebab, mereka tak kunjung menemukan benang merah antara kasus 7/7 dengan kasus 21/7. Alih-alih dengan Al Qaida.

August 05, 2005

London Under Attacks


Pagi yang cerah di pinggiran kota Leeds, bagian utara Inggris. Polisi mengetuk rumah warga satu persatu, memintanya keluar dan berkumpul ke suatu tempat. Sementara polisi yang lain mulai memasang garis pembatas, menutup beberapa jalan di kompleks pemukiman kota Dewsbury itu. Warga yang akan memulai aktivitas dipersilakan pergi, sedangkan yang tinggal di rumah dibawa ke tempat lain. Enam ratus orang dievakuasi tanpa menimbulkan kepanikan.

Empat hari setelah peristiwa Bom London, polisi akhirnya memulai fase penggerebekan untuk mengungkap pelaku. Mereka tiba di Leeds, kawasan yang banyak dihuni kaum muslim Pakistan, bukan karena klaim Al Qaidah, kelompok pimpinan Usamah bin Ladin yang bermula dari Afghanistan dan Pakistan. Tapi hasil sebuah kerja yang tidak grasa grusu. Sebelum melakukan penggerebekan besar-besaran ini, polisi sudah menuai beberapa fakta yang menggiring mereka ke Leeds. Yakni, laporan kehilangan salah satu keluarga pelaku, Shahzad Tanwir, yang khawatir karena Shahzad pamit pergi ke London bersama teman-temannya. Lalu, polisi menemukan barang milik Shahzad di bus yang meledak, dan barang dua warga kabupaten Yorkshire Barat, di dua tube yang meledak. Malam sebelum ke Leeds, polisi memperoleh rekaman gambar empat orang beransel besar, tiba di stasiun King’s Cross. Lengkap. Tapi temuan yang berkelindan ini, disimpan rapi, tak ditimpali oleh pernyataan bombastis polisi. Tenang.

Ketenangan itu pula yang aku saksikan saat kejadian 7 Juli lalu. Saat itu, aku sedang berada di London untuk mengurus visa di Kedutaan Belanda. Dalam perjalanan ke Kedutaan, tiba-tiba bus yang aku tumpangi dihambat kemacetan panjang. Sesuatu yang jarang terjadi di Inggris. Setelah 20 menit tertahan, aku pun memutuskan bergabung dengan pejalan kaki. Berniat melewati titik macet, lalu berganti bus, atau pindah naik tube.

Aku sedikit gembira setelah melihat plang stasiun Edgware Road di kejauhan. Tapi alih-alih bisa masuk ke terowongan, seluruh stasiun sudah ditutup garis pembatas polisi. Puluhan mobil polisi dengan sirene meraung berjejer di depannya. Pun ambulan dan brigade pemadam kebakaran. Tak ada yang bisa ditanyai perihal apa yang terjadi. Polisi yang ditanyai pun tak mau menjelaskan. Ia hanya sigap menghalangi massa yang tetap mencoba menyuruk tali pembatas. Atau memberi penjelasan jalan mana yang bisa dilewati agar segera menjauh dari lokasi.

Aku sempat mencuri dengar perbincangan seorang ibu yang baru saja menelpon. Katanya, ada ledakan di dalam stasiun, banyak yang terluka. Akhirnya kepastian, aku peroleh setelah menelpon kawan di Norwich, yang langsung melongok situs BBC yang gencar memberitakan serangan ini.

Karena serangan yang massive di berbagai lokasi, kepanikan pun segera merebak ke antero London. Untunglah, kerapian, kecepatan, dan ketenangan polisi mengatur keadaan membuatku sedikit lebih tenang. Awalnya, bus yang jalurnya tidak terganggu tetap jalan, meski jarang, tidak sesuai jadwal, dan penuh sesak.


...polisi
menghindari menuduh kelompok tertentu untuk menghapus malu
akibat kebobolan ledakan...
Namun setelah keadaan darurat diumumkan PM Tony Blair, seluruh bus berhanti beroperasi. London pun berubah bak taman besar yang dipenuhi pejalan kaki. Pada kesempatan ini pula, Blair menuding pelaku adalah kelompok teroris Islam. Pernyataan yang kemudian diralat secara perlahan dan gently oleh anak buahnya, dengan mengganti sebutan teroris dengan ekstrimis. Menteri Dalam Negeri, Charles Clarke, selaku penanggungjawab keamanan dalam negeri, Walikota London, juga kepala polisi, menghindar dari menuduh kelompok tertentu dalam setiap pernyataannya. Mungkin mereka tak merasa perlu menghapus rasa malu akibat kebobolan, dengan pernyataan bombastis dan sensasional.

Pakistanshire

Beberapa jam setelah ledakan, pengakuan sebagai pelaku muncul dari Al Qaidah divisi operasi Eropa. Aku masih di London saat itu. Aku mulai mengkhawatirkan polisi akan melakukan sweeping, atau massa marah dan melakukan tindakan didorong sentimen etnis. Itu semua mencair, demi melihat perempuan berjilbab tetap berjalan seperti sediakala. Salat Jumat di Norwich, sehari setelah ledakan, khatib membahas tentang ledakan, dan kekhawatiran pressure kepada kelompok Islam.

Pengakuan Al Qaidah ini tidak mendapat porsi besar di media. Bahkan media besar berpengaruh, macam BBC sudah menyiapkan counter berita, agar umat Islam tetap merasa nyaman. Mereka mem-blow up duka keluarga Shaheera Islam, yang meninggal dalam aksi teror ini. Keluarga Shaheera ditampilkan dalam busana Islam, berdoa di mesjid, lalu datang ke lokasi kejadian. BBC juga mengirim reporter keturunan Arab Muslim, ke Edgware Road, jalan yang acap disebut Timur Tengah-nya London. Disini komunitas muslim ramai berkumpul, karena banyak toko dan restoran Arab.

Koran The Sun, koran kuning yang sensasional, ikut mendinginkan suasana. Edisi sehari setelah ledakan, sampul depannya memuat foto Shaheera Islam dan Monica Suchocha, dua korban tewas. Judulnya amat menggugah: “Dua gadis cantik, satu Islam, satu Kristen, satu duka”.

Tak berarti media menyembunyikan semua kebencian yang ditujukan kepada kaum Muslim. Coretan grafitti “Paki Scum” di pagar sekolah Islam di Leeds tetap muncul di situs BBC. Paki adalah bahasa slank menyebut Pakistan, tapi dalam konotasi kurang baik. Berita pelemparan konsulat Pakistan di Bradford, dan pengrusakan mesjid di Leeds juga muncul. Namun porsi yang diberikan, dibanding dampak kemanusiaan yang timbul, amat kecil. Leeds, Bradford, Manchester, Sheffield, Blackburn adalah kota-kota di Kabupaten Yorkshire Barat yang banyak dihuni kaum Muslim asal Pakistan. Kawasan ini sering diplesetkan sebagai Pakistanshire (lihat: Mengunjungi Pakistanshire, Insani edisi Agustus)

Sehari setelah penggerebekan di Leeds, aku harap-harap cemas seperti apa media akan memberitakannya. Dugaanku meleset. Media lebih mengedepankan nuansa introspektif, ketimbang mengumbar syahwat amarah menjelekkan umat Islam. Maka judul: “English Born Suicide Bombers” pun dipilih sejumlah media. Mereka lebih menyalahkan sistem pendidikan dan pergaulan sosial, yang berujung pada tindakan nekat, yang dilakukan pemuda yang lahir, tumbuh, dan besar di Inggris.

Inggris sangat berduka dengan tragedi dahsyat pertama setelah Perang Dunia II ini. Tapi pemerintah dan pers-nya menunjukkan sikap dewasa, yang mengentalkan negaranya sebagai ranah yang subur untuk multi-etnis dan multikultur tumbuh bersama. Setidaknya, bagi aku yang hanya tinggal setahun.

London Under Attacks


Pagi yang cerah di pinggiran kota Leeds, bagian utara Inggris. Polisi mengetuk rumah warga satu persatu, memintanya keluar dan berkumpul ke suatu tempat. Sementara polisi yang lain mulai memasang garis pembatas, menutup beberapa jalan di kompleks pemukiman kota Dewsbury itu. Warga yang akan memulai aktivitas dipersilakan pergi, sedangkan yang tinggal di rumah dibawa ke tempat lain. Enam ratus orang dievakuasi tanpa menimbulkan kepanikan.

Empat hari setelah peristiwa Bom London, polisi akhirnya memulai fase penggerebekan untuk mengungkap pelaku. Mereka tiba di Leeds, kawasan yang banyak dihuni kaum muslim Pakistan, bukan karena klaim Al Qaidah, kelompok pimpinan Usamah bin Ladin yang bermula dari Afghanistan dan Pakistan. Tapi hasil sebuah kerja yang tidak grasa grusu. Sebelum melakukan penggerebekan besar-besaran ini, polisi sudah menuai beberapa fakta yang menggiring mereka ke Leeds. Yakni, laporan kehilangan salah satu keluarga pelaku, Shahzad Tanwir, yang khawatir karena Shahzad pamit pergi ke London bersama teman-temannya. Lalu, polisi menemukan barang milik Shahzad di bus yang meledak, dan barang dua warga kabupaten Yorkshire Barat, di dua tube yang meledak. Malam sebelum ke Leeds, polisi memperoleh rekaman gambar empat orang beransel besar, tiba di stasiun King’s Cross. Lengkap. Tapi temuan yang berkelindan ini, disimpan rapi, tak ditimpali oleh pernyataan bombastis polisi. Tenang.

Ketenangan itu pula yang aku saksikan saat kejadian 7 Juli lalu. Saat itu, aku sedang berada di London untuk mengurus visa di Kedutaan Belanda. Dalam perjalanan ke Kedutaan, tiba-tiba bus yang aku tumpangi dihambat kemacetan panjang. Sesuatu yang jarang terjadi di Inggris. Setelah 20 menit tertahan, aku pun memutuskan bergabung dengan pejalan kaki. Berniat melewati titik macet, lalu berganti bus, atau pindah naik tube.

Aku sedikit gembira setelah melihat plang stasiun Edgware Road di kejauhan. Tapi alih-alih bisa masuk ke terowongan, seluruh stasiun sudah ditutup garis pembatas polisi. Puluhan mobil polisi dengan sirene meraung berjejer di depannya. Pun ambulan dan brigade pemadam kebakaran. Tak ada yang bisa ditanyai perihal apa yang terjadi. Polisi yang ditanyai pun tak mau menjelaskan. Ia hanya sigap menghalangi massa yang tetap mencoba menyuruk tali pembatas. Atau memberi penjelasan jalan mana yang bisa dilewati agar segera menjauh dari lokasi.

Aku sempat mencuri dengar perbincangan seorang ibu yang baru saja menelpon. Katanya, ada ledakan di dalam stasiun, banyak yang terluka. Akhirnya kepastian, aku peroleh setelah menelpon kawan di Norwich, yang langsung melongok situs BBC yang gencar memberitakan serangan ini.

Karena serangan yang massive di berbagai lokasi, kepanikan pun segera merebak ke antero London. Untunglah, kerapian, kecepatan, dan ketenangan polisi mengatur keadaan membuatku sedikit lebih tenang. Awalnya, bus yang jalurnya tidak terganggu tetap jalan, meski jarang, tidak sesuai jadwal, dan penuh sesak.


...polisi
menghindari menuduh kelompok tertentu untuk menghapus malu
akibat kebobolan ledakan...
Namun setelah keadaan darurat diumumkan PM Tony Blair, seluruh bus berhanti beroperasi. London pun berubah bak taman besar yang dipenuhi pejalan kaki. Pada kesempatan ini pula, Blair menuding pelaku adalah kelompok teroris Islam. Pernyataan yang kemudian diralat secara perlahan dan gently oleh anak buahnya, dengan mengganti sebutan teroris dengan ekstrimis. Menteri Dalam Negeri, Charles Clarke, selaku penanggungjawab keamanan dalam negeri, Walikota London, juga kepala polisi, menghindar dari menuduh kelompok tertentu dalam setiap pernyataannya. Mungkin mereka tak merasa perlu menghapus rasa malu akibat kebobolan, dengan pernyataan bombastis dan sensasional.

Pakistanshire

Beberapa jam setelah ledakan, pengakuan sebagai pelaku muncul dari Al Qaidah divisi operasi Eropa. Aku masih di London saat itu. Aku mulai mengkhawatirkan polisi akan melakukan sweeping, atau massa marah dan melakukan tindakan didorong sentimen etnis. Itu semua mencair, demi melihat perempuan berjilbab tetap berjalan seperti sediakala. Salat Jumat di Norwich, sehari setelah ledakan, khatib membahas tentang ledakan, dan kekhawatiran pressure kepada kelompok Islam.

Pengakuan Al Qaidah ini tidak mendapat porsi besar di media. Bahkan media besar berpengaruh, macam BBC sudah menyiapkan counter berita, agar umat Islam tetap merasa nyaman. Mereka mem-blow up duka keluarga Shaheera Islam, yang meninggal dalam aksi teror ini. Keluarga Shaheera ditampilkan dalam busana Islam, berdoa di mesjid, lalu datang ke lokasi kejadian. BBC juga mengirim reporter keturunan Arab Muslim, ke Edgware Road, jalan yang acap disebut Timur Tengah-nya London. Disini komunitas muslim ramai berkumpul, karena banyak toko dan restoran Arab.

Koran The Sun, koran kuning yang sensasional, ikut mendinginkan suasana. Edisi sehari setelah ledakan, sampul depannya memuat foto Shaheera Islam dan Monica Suchocha, dua korban tewas. Judulnya amat menggugah: “Dua gadis cantik, satu Islam, satu Kristen, satu duka”.

Tak berarti media menyembunyikan semua kebencian yang ditujukan kepada kaum Muslim. Coretan grafitti “Paki Scum” di pagar sekolah Islam di Leeds tetap muncul di situs BBC. Paki adalah bahasa slank menyebut Pakistan, tapi dalam konotasi kurang baik. Berita pelemparan konsulat Pakistan di Bradford, dan pengrusakan mesjid di Leeds juga muncul. Namun porsi yang diberikan, dibanding dampak kemanusiaan yang timbul, amat kecil. Leeds, Bradford, Manchester, Sheffield, Blackburn adalah kota-kota di Kabupaten Yorkshire Barat yang banyak dihuni kaum Muslim asal Pakistan. Kawasan ini sering diplesetkan sebagai Pakistanshire (lihat: Mengunjungi Pakistanshire, Insani edisi Agustus)

Sehari setelah penggerebekan di Leeds, aku harap-harap cemas seperti apa media akan memberitakannya. Dugaanku meleset. Media lebih mengedepankan nuansa introspektif, ketimbang mengumbar syahwat amarah menjelekkan umat Islam. Maka judul: “English Born Suicide Bombers” pun dipilih sejumlah media. Mereka lebih menyalahkan sistem pendidikan dan pergaulan sosial, yang berujung pada tindakan nekat, yang dilakukan pemuda yang lahir, tumbuh, dan besar di Inggris.

Inggris sangat berduka dengan tragedi dahsyat pertama setelah Perang Dunia II ini. Tapi pemerintah dan pers-nya menunjukkan sikap dewasa, yang mengentalkan negaranya sebagai ranah yang subur untuk multi-etnis dan multikultur tumbuh bersama. Setidaknya, bagi aku yang hanya tinggal setahun.

July 04, 2005

Mengunjungi Pakistanshire

Suara azan ashar mempercepat makan siang kami yang terlambat. Padahal makan siang ini ternikmat yang pernah aku rasakan selama tinggal di Inggris. Sop buntut, tahu, dan sambel terasi. Tapi, inilah kali pertama aku mendengar suara azan di rumah. Di Bradford. Maka, piring pun segera dibenahi, dan bergegas ke masjid.

Masjid Nurul Iman, berada di tengah perkampungan warga Pakistan. Jalan di kota Bradford berkontur naik turun. Karena posisi mesjid agak di bagian atas, maka arus jemaah menuju mesjid dari beberapa penjuru terlihat indah sekali. Mereka datang berpakaian Pakistan, semacam baju koko sepanjang lutut. Ada pula sedikit yang bergamis. Menatapnya, ditingkahi suara azan, serasa tak seperti di Inggris. Tapi di sebuah kota santri, entah dimana.

Mesjid Nurul Iman, hanyalah satu dari 33 mesjid di antero Bradford. Berlantai empat, dengan luas tiap lantai sekitar 200 meter persegi. Di bagian bawah untuk belajar Al Quran dan wudu’, dan salah satu lantai untuk ruang pertemuan.

Besar dan banyaknya mesjid di Bradford, menunjukkan besarnya komunitas muslim disini. Penanda lain, adalah sebaran toko dan restoran halal. Maka sehabis shalat, Yudi, teman kami yang bersekolah di Universitas Bradford mengajak berjalan keliling kota. Tak jauh dari mesjid, sebuah supermarket besar menjual makanan halal, diberi nama “Al Halal”. Kata Yudi, kalau kita iseng bertanya tentang kehalalan sebuah produk yang dijual disana, penjaga akan bilang, “namanya saja sudah toko Halal, ya pasti halal”.

Memang, tadi ketika tiba di stasiun Bradford, kedai Fish and Chips, makanan khas Inggris, menyambut kami di peron stasiun. Pemandangan biasa. Yang tak biasa adalah logo “halal” yang terpasang di gerobak merah itu. Penjaganya, lelaki berwajah Pakistan sibuk melayani pembeli. Rupanya selain menjual ikan dan kentang goreng, ia menjaja kebab dan ayam masala khas Pakistan. Kelak kami tahu, saking besarnya komunitas Pakistan di Bradford, mereka berjualan segala jenis makanan yang diolah halal. Termasuk fried chicken dan chinese food. Disinilah, Nando’s, gerai ayam bakar dari Portugal, harus memasang logo halal. Nama-nama toko pun islami, macam Al Haq, Bismillah, Al Hajj, Saif, dan Abdul’s. Tak salah, Yudi selalu mempromosikan Bradford sebagai daerah jajahan Pakistan di Inggris, dengan sebutan Pakistanshire.

Aku sendiri, ketika tiba tadi sempat gamang. Apakah ini masih di Inggris, tau di Islamabad. Menuruni tangga stasiun, wajah-wajah Asia Tengah semakin banyak. Gadis berjilbab, atau yang mengenakan sari yang dimodifikasi menjadi busana muslimah modern, serta lelaki bergamis lengkap dengan janggut menjuntai berseliweran. Sopir taksi, sebagian besar adalah warga Pakistan.

Hijrah

Kontur kota Bradford, berkesesuaian dengan muasal namanya. Bradford terdiri dari dua kata, broad dan ford, artinya bagian sungai yang dangkal untuk tempat perlintasan. Tak syak, mudah membayangkan Bradford adalah sebuah hutan perawan nan indah, dengan sebuah sungai melintas, tempat para cowboy melintas menghela banteng.

Industri membuat semuanya berubah. Bradford dikenal sebagai tempat industri pengolahan kulit. Lalu dimasa 90-an, ketika booming industri tekstil melanda Eropa, suara mesin dari kilang tekstil pun meramaikan Bradford. Ketika tenaga kerja murah dibutuhkan, berduyun-duyunlah warga Pakistan ke Bradford. Utamanya, tahun 50 dan 60-an. Sebagian besar mereka berasal dari Distrik Mirpur, sebelah selatan Kashmir yang beragama Islam. Desa ini terkenal punya tradisi merantau macam minangkabau. Maka ketika ada yang berjaya di perantauan, ia akan membawa serta lebih banyak lagi sanak dan kerabat. Termasuk untuk dijadikan istri.

Cara ini efektif menambah besar komunitas Pakistan di bumi Inggris. Ketika industri tekstil redup tahun 79-an, mereka tidak kembali. Tapi tumbuh di sektor perdagangan, dengan membuka toko dan restoran. Tak hanya kelas toko satu pintu. Restoran Mumtaz, yang mengklaim sebagai penyaji makanan Asia Tengah terbesar di Inggris Raya, meluaskan kerajaan bisnis ke sektor makanan kemasan siap saji.

Komunitas Pakistan ini juga terdapat di kota-kota lain di sekitar Bradford. Seperti Leeds, Manchester, Leichester, Sheffield, dan Blackburn. Bahkan dibanding Bradford, komunitas terbesar Pakistan ada di Blackburn, kota yang digelari “kota tenun”. Pada pemilu Inggris lalu, Menteri Luar Negeri, Jack Straw, yang menjadi calon DPR dari sini, nyaris tak terpilih lagi, karena gangguan kelompok Muslim yang mengibarkan isu anti perang Irak.

Kerajaan usaha makanan warga Pakistan, mendapat pengakuan nyata. Di Manchester, ada satu ruas jalan dekat kawasan kampus Universitas Manchester, digelari curry mile. Maksudnya, sepanjang beberapa mil, anda akan mencium bau kari. Istilah ini masuk dalam majalah kuliner yang terbit di Inggris.

Tapi kiprah warga Pakistan di bagian utara Inggris ini, bukan melulu di bidang tekstil dan makanan saja. Mereka juga merambah dunia politik. Banyak dari warga Pakistan menjadi Dewan Kota, dan Member of Parliament (DPR). Bahkan, Mei lalu, putra kelahiran Pakistan 46 tahun lalu, menjadi walikota muslim pertama di Manchester. Upacara pelantikannya, diramaikan nasyid Tala’al badru alaina.

Keberhasilan Khan membuktikan kuatnya kemauan warga Pakistan menata hidup yang lebih baik dengan usaha keras. Khan dibawa ayahnya ke Inggris pada usia 12 tahun, dengan hanya bisa berbahasa Urdu. Ia bekerja apa saja, mulai dari tukang tenun, sopir, hingga polisi, agar bisa menyelesaikan kuliah Hukum-nya di Universitas Manchester. Setelah menjadi, pengacara sukses, ia menjadi anggota Dewan Kota, lalu terpilih sebagai walikota.

Ada satu hal yang mengganjal dari kehidupan warga Pakistan di Inggris. Salah satu ciri kota-kota di Inggris adalah bersih dan tertata rapi. Tidak demikian halnya dengan Bradford, Leeds, dan Manchester. Sampah yang tidak masuk tong secara sempurna, jemuran yang malang melintang, serta lalulintas yang semrawut. Aku menyebutnya jejak “kebesaran” ala negara berkembang. Entah analisa apa yang pas untuk menggambar keadaan ini. Mungkin saja, warga Inggris kelewat menuntut pelayanan, sehingga pemerintah merasa harus selalu memberi yang terbaik. Tapi warga pendatang ini tidak. Atau bisa saja, fasilitas yang diperoleh saat ini, sudah merupakan hal terbaik yang tak terbayangkan sebelumnya. Lalu buat apa menuntut lebih?

June 04, 2005

Tuan Hormat dari Kampung Hijau

Perempuan paruh baya itu sedang jalan-jalan di sore yang dingin. Ia melihat Anne Sacks, kandidat anggota parlemen dari Partai Buruh di halaman rumah tetangganya. Perempuan berambut pirang itu segera masuk rumah. Anne, yang memasang mawar merah, warna Buruh, sebagai hiasan jasnya, sedang mengadakan kampanye door to door. Tak sabar menunggu Anne tiba di pintunya, perempuan itu segera keluar. “Aku kira Blair itu pembohong berengsek. Jadi nggak ada pentingnya menjual programnya disini,” katanya. Sebagai orang Inggris yang beretika tinggi, perkataan “menghina” itu tetap diiringi senyuman.

Kampanye model inilah yang mewarnai jagat media Inggris. Tadinya aku berharap akan ada arak-arakan, kumpul-kumpul di lapangan, atau spanduk dimana-mana. Sayang, pemilu bersuasana pesta yang aku impikan itu jauh dari kenyataan. Partai memanfaatkan habis-habisan media.

Suatu hari, ada iklan di koran, berwarna merah dan bergambar Tony Blair. Sekilas, ini seolah iklannya Partai Buruh. Tapi, begitu dibaca isinya: Jika dia (Blair) berbohong untuk membawa kita ke perang (Irak), maka dia pasti bohong bisa memajukan negara ini. Pilih Conservative!.

Perang Irak memang menjadi duri dalam daging bagi karir politik Tony Blair. Seminggu sebelum Pemilu, masalah Irak ini tiba-tiba muncul, yakni Jaksa Agung Inggris ternyata tidak pernah memberikan izin penyerangan ke Irak tahun 2003. Sungguh sebuah kebocoran yang sempurna, dan di waktu yang sangat tepat, menjelang pemilu.

Tak syak, Blair dan petinggi Buruh pun kalang kabut. Lewat sebuah rapat tingkat tinggi, maka strategi kampanye pun putar haluan. Yang tadinya konsentrasi menyerang kubu Konservatif, dialihkan kepada menohok kebijakan Liberal Demokrat. Lib Dem adalah partai yang kerap mengusung anti perang, dengan kasus Irak sebagai jualan utamanya. Sebetulnya, seperti bunyi iklan yang diatas tadi, Konservatif pun segendang sepenarian. Tapi mereka pernah punya sejarah pro perang, ketika Margareth Tatcher menyerang Malvinas di masa kekuasaannya. Sehari sebelum pemilu, Mark Penn, pakar survey Buruh yang disewa dari Amerika, mencoret papan pengumuman di kantor pusat Buruh “37 32 22”. Maksudnya, Buruh 37 persen, Konservatif 32, dan Lib Dem 22 persen.

Maka, seperti kampanye yang tak meriah, Pemilu pun berlangsung seolah tak ada pesta demokrasi. Uniknya, hingga pencoblosan berlangsung kampanye tetap boleh. Tak ada upacara pencabutan tanda gambar sebelum hari H. Kami sempat melihat, seorang pemuda berkeliling sambil membawa poster bertulis “Anti War”.

Memang, soal perang ini tidak menyedot perhatian sebesar masahah pelayanan kesehatan dan sekolah. Namun, menurut survei Buruh ada 18 persen pemilih potensial beralih jika tidak diseriusi. Seperti sudah diketahui, Buruh dan Tony Blair meraih kursi untuk yang ketiga kalinya, setelah 1997 dan 2001.

Apakah kemenangan Partai Buruh yang ketiga kali ini adalah kemenangan bagi Tony Blair sebagai Perdana Menteri? Pertanyaan yang akan mendapat jawaban yang agak beragam. Kalau ekonomi baik dan yang lainnya stabil, mengapa dukungan bisa turun drastis ? Analisa seragam yang muncul adalah bahwa penurunan jumlah ini adalah pesan kepada Tony Blair bahwa kepemimpinannya dalam empat tahun terakhir, terutama berkenaan dengan Perang Irak, tidaklah populer.

Pada pemilu sebelumnya, Buruh memenangi pemilih mengambang, dimana pemilih muslim yang utamanya pendatang, masuk dalam kategori ini. Sayangnya, kali ini perang Irak menjadi isu yang banyak digunakan oleh partai oposisi, Konservatif dan Liberal Demokrat maupun mereka yang membangkang dari Partai Buruh sendiri untuk menyerang Blair. Salah satu yang meraih untung adalah George Galloway.

Galloway menggenapi simbol kekalahan Buruh dalam soal Irak ini, dengan memenangkan pemilihan di daerah pemilihan Bethnal Green dan Bow di London Timur. Daerah ini memiliki mayoritas 45 persen pemilih Muslim, yang kebanyakan berasal dari Bangladesh. Galloway adalah mantan anggota dewan dari Partai Buruh untuk daerah pemilihan Glasgow, yang di-recall karena menentang kebijakan Blair soal Irak.

Setelah dipecat, ia mendirikan Respect Party (Partai Kehormatan) dan memilih Bethnal Green sebagai distrik pemilihan. Lawan utamanya disini adalah Oona King, yang mewakili Partai Buruh. Pemilu 2001, Oona meraih 50 persen suara, dengan raihan suara lebih dari 10 ribu. Saingannya saat itu, Sahagir Bath Faruq, seorang warga lokal, yang masuk lewat Partai Konservatif. Faruq, pengusaha yang banyak dikenal warga, meraih 24 persen.

Buruh berketapan mempertahankan Oona King, seorang warga berkulit hitam yang merepresentasikan kelompok minoritas, sebab Bethnal Green dan Bow juga kawasan minoritas. Dalam situasi normal, dimana para pemilih Muslim secara tradisional adalah pendukung Partai Buruh, kursi ini dengan mudah akan bisa dipertahankan.

Tapi itu dulu, sebelum Galloway mulai intensif mengolah sentimen anti perang. Hasilnya, Galloway meraih 35,9 persen, meninggalkan Oona di angka 34 persen, serta Faruq yang hanya kebagian 14 persen saja. Kunci kemenangan Galloway adalah pada konsistensinya melawan perang Irak. Dia pernah dua kali bertemu secara pribadi dengan mantan pemimpin Irak tersebut. Ia tidak neko-neko mengangkat isu lain, hanya isu tunggal perang Irak dan konsentrasi pada satu daerah pemilihan saja.

Ketika ia dipastikan menang pada jumat dinihari (pemilu kamis, 5 Mei 2005), ia langsung berpidato: “Mr Blair, Perang Irak sudah kembali untuk menghantuimu. Yang terbaik yang bisa dilakukan Partai Buruh adalah memecatmu hari Jumat pagi ini," kata Galloway dalam pidato kemenangannya. Galloway bisa menjadi duri dalam daging bagi perjalanan ketiga Blair. Entah kebetulan entah tidak, begitu Galloway terpilih, Komite Senat Amerika Serikat mengeluarkan laporan, bahwa Galloway menerima hak khusus pembelian minyak Irak di bawah skema PBB "minyak untuk pangan". Tapi Galloway menuduh tudingan ini sebagai sampah.

Para pemilih Muslim yang berjumlah 1,2 juta orang di Inggris dengan jelas menunjukkan suara mereka sebagai penentang perang Irak. Di daerah Blackburn, yang juga mayoritas Muslim, perolehan suara menteri luar negeri Jack Straw juga menurun hampir 5.000 suara walaupun dia masih bisa mempertahankan kursinya. Kampanye anti Straw disini, dimotori oleh Muslim Public Affair Committe (MPAC) Inggris, sebuah lembaga pemberdayaan politik tanpa kekerasan kaum Muslim, dengan mengangkat isu perang. Straw adalah Menteri Luar Negeri, yng dituduh MPAC berada dibalik kebijakan perang, termasuk Irak, Palestina, Afghanistan, dan Kashmir. Kegiatan MPAC ini diputar televisi Channel 4, dalam film semi dokumenter, setelah pemilu berlangsung.

Kini Blair telah kembali ke Downing Street 10. Meskipun dibayangi menguatnya oposisi, dan tendensi dukungan publik yang semakin menurun. Akankah Blair menuntaskan empat tahun perjalanan ketiganya dengan hasil akhir yang mungkin saja buruk. Atau menyerahkan tongkat estafet, dan bergeser menjadi negarawan.

May 04, 2005

Menyigi Kode Da Vinci

aziz sutan, wesminster abbey, london
Wesminster Abbey
KAMI berjalan meninggalkan Trafalgar Square. Dibawah tatapan patung Lord Nelson, yang berdiri garang di puncak monumen, kami susuri jalan Downing Street. Sejenak berhenti di Horse Guard, menyaksikan upacara pergantian penjaga istana. Tak lupa berpose dengan penjaga yang setia duduk di atas kuda, yang selalu serius, tanpa senyum apalagi menguap.

Hanya beberapa langkah dari sana, rumah nomor sepuluh. Disinilah Tuan Tony Blair berkantor. Tak ada kesan angker, megah, digjaya. Kami bebas melintas, berfoto di pagar dengan memanfaatkan penjaga tanpa senjata sebagai background. Seraya tersenyum membayangkan, beranikah kami berfoto di depan istana negara.

Nun disana, jarum jam di puncak big ben bergoyang seperti menghimbau segera tiba. Menara itu menjadi penanda, sebuah kawasan dimana ada parliament building dan westminster abbey, place of worship house of Kings. Kami memasuki halaman Westminster Abbey. Disana ada barisan panjang, orang yang akan mengikuti tour.

Westminster Abbey, Parliement Building, Trafalgar Square, Big Ben, Horse Guard, Istana Buckingham, Hyde Park merupakan tempat tujuan bila berkunjung ke London dalam waktu pendek. Itu adalah ikon kota London. Bagi anak-anak mahasiswa Indonesia, pemilihan lokasi-lokasi ini, ditopang oleh keinginan belanja makanan Indonesia, ke China Town, yang ada di belakang Trafalgar Square. Seluruh lokasi ini dapat ditempuh dengan berjalan kaki, karena ada dalam petak yang berdekatan.

Namun sejak novel Gordon Brown, The Da Vinci Code terjual 25 juta kopi dalam 44 bahasa, nama beberapa lokasi itu ikut melambung. Ada agen perjalanan, yang mengadakan The Da Vinci Code Tour, selama 7 jam dengan biaya 250 Pound (kl. 4 juta rupiah). Brown menulis di halaman pertama, bahwa setting lokasi yang disebutnya sahih.

london garden aziz sutanDi Westminster Abbey, Langdon dan Neveu ke makam Newton untuk mencari arti dari kode dalam tulisan rahasia (crytex) yang mereka dapat dari kakek Neveu. Ternyata, beberapa saat kemudian mereka mendapat pesan, bahwa Teabing ada disana. Kalau mereka berdua berniat menyelamatkan Teabing, harus datang ke taman College Garden, yang ada di dalam kompleks Westminster Abbey. Di taman yang dipakai para rahib untuk menanam berbagai tumbuhan obat-obatan ini, Langdon dan Neveu baru sadar, bahwa Teabing adalah otak dari semua kekacauan yang terjadi. Ketika sampai di Chapter House, Teabing mengancam mereka dengan pistol, meminta mereka bekerja sama. Neveu menolak. Tapi Langdon khawatir Neveu dibunuh Teabing, jika ia juga menolak. Ia setuju kerjasama, tapi ia juga melemparkan keystone yang ia bawa sampai pecah. Mereka kemudian berusaha mencari tahu, apa petunjuk kunci selanjutnya, yang mengarahkan ke dimana makam Maria Magdalena.

Newton yang wafat Maret 1727, memang dimakamkan disana. Untuk menandai kehadiran Newton disana, dibuatlah sebuah monumen Newton yang berdiri tegak di pintu utara. Selain Newton, di Westminster Abbey juga dimakamkan kurang lebih 3000 orang bangsawan Inggris, ksatria, ilmuwan, pemusik, sastrawan, dan juga Ratu Elizabeth I. Westminster Abbey juga tempat pelantikan raja-raja Inggris, antara lain, William sang Penakluk, dan juga tempat upacara pemakaman Putri Diana dan Raja Henry V. Di tempat ini pula, Pangeran Andrew dan Sarah Ferguson melakukan upacara pemberkatan pernikahan.

Abbey hanyalah gedung tua berwarna kelabu, tapi luas dan megah. Berdiri di pusat kota London, berseberangan dengan parliament building, dan dekat dengan Big Ben maupun sungai Thames. Di depan Abbey, ada taman kecil yang selalu dipakai orang untuk menggelar poster demonstrasi. Baik perorangan maupun dalam kelompok besar. College Garden yang disebut sebagai apotik hidup, sudah ada sejak 900 tahun lalu.

Sedikit menjauh ke arah Istana Ratu, Buckingham Palace, ada taman sangat luas. Sejauh mata memandang, warna kehijauan yang asri terhampar sampai jauh. Yakni St James Park, Green Park, Hyde Park, dan Kensington Garden. St James dan Green Park menyambung jadi satu, demikian pula Hyde Park dengan Kensington Garden. Keduanya hanya dipisah oleh jalan raya.

Brown menggambarkan taman St James sebagai lokasi pembunuhan. Padahal taman ini sangat ramai, terutama bila matahari bersinar terik. Mulai dari yang duduk di bangku, juga tiduran di atas rumput. Disini ada sungai kecil dan kolam, yang dipenuhi bebek berkecipak. Biasanya, bila berjalan dari Trafalgar, Westminster, terus Buckingham, di taman ini ideal untuk berselonjor sesaat sambil membuka bekal. Tapi hati-hati bila membuka makanan disini. “Musuh” anda adalah anjing yang segera mengendus, dan burung merpati, yang jinak-jinak merpati hinggap di kepala dan bahu.

Selepas membuka bekal, kami berdebat. Apakah akan Temple Church, di Fleet Street sementara hari semakin petang.

Di Temple Church ini, Sir Teabing, Langdon dan Neveu mencari titik terang dimana keberadaan Holy Grail dan dimana makam Maria Magdalena –yang di buku ini diceritakan sebagai istri Yesus—dimakamkan. Teabing dan Langdon yakin, petunjuk yang mereka punya mengindikasikan bahwa di gereja ini ada tomb (makam tua) yang mereka cari tersebut. Namun pemuda penjaga altar bilang, yang mereka kira tomb, sebetulnya adalah Effigies, yaitu batu yang ditaruh sebagai bentuk penghormatan kepada seseorang. Tapi bukan makam. Mungkin seperti monumen. Di Temple Church ini Remy dan Silas –yang ternyata sudah saling bekerjasama sebelumnya—datang untuk merebut Keystone (semacam kunci rahasia yang unik dan rumit –yang diwariskan sang kurator museum kepada Neveu). Silas dan Remy kemudian menculik Sir Teabing, setelah mengancam akan membunuh Teabing dengan pistol.
Akhirnya, setelah pertimbangan waktu, sebab kami harus belanja ke China Town, kami putuskan mengunjunginya lain waktu saja. Sebab dari St James Park, kami harus naik tube, agar lebih cepat tiba. Sementara, kalau balik kanan ke China Town, kami bisa melewati Trafalgar Square, dan melihat The National Gallery.

Dalam novelnya, Brown menyebutkan di museum ini, ada lukisan Leonardo Da Vinci, Virgin of The Rocks. Kami masuk kesini tanpa sengaja. Karena hujan turun, pengunjung di Trafalgar Square berlarian kesana. Sekalian mencari kehangatan, kami masuk ke dalam. Lukisan Virgin of The Rocks-nya Da Vinci bersisian di ruang yang sama, ruang 2, dengan The Entombment milik Michael Angelo. Untuk melihat koleksi lukisan sejak era 1250 ini, tidak perlu merogoh kocek. Meskipun di pojok, ada kotak untuk donasi, pengunjung hanya menyumbang sukarela. Tidak bayar, juga tidak apa-apa.

Sama seperti taman atau area terbuka di London, di Traflagar Square juga banyak burung merpati. Banyaknya merpati di Trafalgar Square ini mungkin yang mengilhami Weka Gunawan menulis novel dengan judul “merpati di Trafalgar Square”.

April 06, 2005

Hidup Bermutu Diatur Ratu

Pintu belakang mobil Mercy jenis MVP itu terbuka perlahan. Lalu, plang besi yang menjadi penghalang rebah ke tanah, membentuk lintasan landai. Tak lama, seorang perempuan setengah baya di atas scooter menuruni lintasan tadi. Semuanya elektrik. Selepas mengucap salam kepada pengantarnya, mungkin suaminya, ia menjalankan scooter beroda tiga memasuki pelataran rumah sakit.

Tak ada yang aneh dari semua gerak geriknya. Padahal perempuan itu, cacat kaki. Jangankan orang lain, bahkan suaminya pun tak diizinkan mengibanya. Semua ia lakukan sendiri, seolah ia tiada kekurangan. Tapi memang, infrastruktur pembangunan, membuat orang cacat tak merasa memiliki kekurangan.

Seperti karoseri mobil tadi. Sudah beberapa kali aku melihat model mobil akrab orang cacat macam itu tadi. Sebelumnya, ada mobil baru Renault Kango, dibuat seperti itu. Aku yakin mudah mencari bengkel karoseri untuk merombak konstruksi mobil. Sebab ambulans, bis sekolah, juga bis umum didisain akrab untuk orang cacat.

Pemandangan di jalan raya ini menjadi bukti fisikal paling menonjol, contoh pemuliaan manusia. Masih banyak contoh kehidupan lain yang membuat kehidupan menjadi lebih bermutu. Jalanan yang tidak macet, lapangan sebagai daerah resapan dan tempat bermain mudah ditemui dimana-mana. Nah ini satu lagi, air yang bisa langsung diminum dari kran. Luar biasa, karena ini aku dapati justru di negara barat, negara yang jauh dari ajaran Islam, dan cenderung melegalkan pola kehidupan bebas. Padahal, bukankah Allah pertama kali menurunkan air yang bisa diminum tanpa dimasak itu adalah di tanah Islam, yakni air zamzam. Padahal bukankah, negara-negara Islam itu yang mengenal semboyan “Bersih itu sebagian dari iman”.

Orang yang pernah ke Eropa dan pernah pula naik haji, akan merasakan perbedaan yang sangat nyata, dalam sistem kehidupan. Penegakan aturan di Eropa mencerminkan pola kehidupan Islami: memuliakan martabat manusia. Tak heran, seorang teman berkata: "Orang Arab Islam, tapi pelayanan publiknya tidak islami. Sedang orang Eropa, sangat islami". Ulama cum pakar komunikasi dari Bandung, Jalaluddin Rakhmat menyebutnya sebagai kesalehan sosial.

Selain angkutan, infrastruktur kota-kota di Inggris, semuanya memudahkan bagi orang cacat. Jalan dilengkapi dengan trotoar luas, gedung dilengkapi toilet khusus, lift khusus, jalur khusus. Pada jam-jam tertentu, di bus acap dijumpai beberapa pasangan kakek nenek, yang baru pulang belanja, atau mencuci pakaian ke tempat laundry. Karena mahalnya harga tenaga manusia, jarang sekali orang disini, yang memiliki pembantu atau sopir pribadi.

Para manula ini tidak pernah turun naik bus terburu-buru. Sopir selalu menunggu mereka yang sudah berjalan tertatih, dengan membawa tongkat dan mendorong tas berisi belanjaan. Bus menyediakan bangku khusus untuk orang tua, yang ditempeli bacaan: “Berikan kursi ini kepada orang tua”. Jadi kalau mau nekat duduk disana, tidak ada yang melarang. Tapi begitu ada orang tua atau orang cacat naik, harus segera hengkang. Ini konsekuensi moral dari tulisan itu. Orang-orang tua ini, juga mendapat penghargaan khusus dari pemerintah, dengan reduksi ongkos.

Masih tentang pelayanan terhadap orang cacat. Klub sepakbola Norwich City, menyediakan tribun khusus untuk orang cacat. Tiketnya memang lebih mahal, karena ada fasilitas tambahan. Bagi yang tidak mau membawa mobil, disediakan angkutan khusus dari titik tertentu diluar stadion. Sedang bagi yang membawa mobil, disediakan parkir khusus paling dekat ke stadion.

Memang, hampir semua perkantoran menyediakan tempat parkir yang berjarak dari gedung. Baik pejabat, atau tamu penting harus memarkir kenderaan dan berjalan kaki ke gedung. Padahal di sekitar gedung ada area parkir. Untuk siapakah ini? Hanya untuk orang cacat yang dibuktikan dengan kartu khusus yang ditempel di kaca mobil. Tak heran, banyak orang cacat bepergian sendirian, karena ia tidak akan mendapat kesusahan. Bekas Menteri Dalam Negeri Inggris, David Blunkett, seorang tunanetra, kemana-mana selalu ditemani anjing sebagai penuntun.

Masih banyak contoh-contoh kehidupan teratur lainnya. Seperti kebersihan dan keramahtamahan. Meskipun tidak ada tulisan mencolok “dilarang buang sampah sembarangan”, hampir tidak ada orang yang membuang sampah di jalan, trotoar, halte, ataupun angkutan umum. Pemerintah kota berperanan besar mendukung gerakan ini. Dimana-mana bertebaran tempat sampah yang selalu tanpak bersih. Ada sampah khusus barang kering, khusus kertas dan barang-barang recycle, dan barang kotor dan basah. Alih-alih memberi peringatan “dilarang membuang sampah sembarangan”, tapi tak menyediakan tempat sampah, tentulah perbuatan yang tidak bertanggungjawab juga. Mungkin pemerintah kita sering lupa, berbuat kebajikan bagi sesama itu jauh lebih penting. Melayani publik, adalah amalan yang mendatangkan pahala. Agama semestinya menjadi pegangan untuk membahagiakan manusia, agar sama-sama khusu' menyembah Sang Khalik.

Bagaimana pula soal keramahan. Kurang ramah apa orang Islam, yang salah satu sapaannya adalah sekaligus doa, Assalamu Alaikum (salam sejahtera bagi kamu sekalian). Orang Inggris suka mengucap terima kasih, serta mendahulukan orang lain. Aku pernah “kesal” ketika mau pergi les. Aku berangkat sudah mepet. Sewaktu ada penumpang mau turun, ia berlama-lama, hanya karena anaknya yang di kursi dorong belum mengucap salam terima kasih kepada sopir. Padahal si anak sudah setengah terkantuk. Sampai si anak mengucap thank you kepada sopir, baru mereka turun.
Bisakah ini dipraktekkan di Indonesia, negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia? Tentu saja ya. Aku pernah ke Istana Bogor jaman Presiden Wahid berkuasa. Layaknya gedung bekas Belanda, banyak undakan disana. Nah, disebelah tangga, ada jalur khusus selebar satu meter. "Ini khusus dibuat untuk ibu Sinta Nuriyah (First Lady kala itu yang menggunakan kursi roda)". Gus Dur tak egois, hanya mementingkan keluarga. Pada jamannya pula, stasiun kereta api Gambir diproklamirkan familiar terhadap orang cacat. Yah, seperti kata pepatah tua, alah bisa karena dimula. Semoga.

March 05, 2005

Rumah Kebajikan di Ladang Gereja

Mesjid Ihsan Norwich

Aku melangkah menjauhi pusat kota Norwich. Di kiri aku melampaui gereja tua St Stephen, yang terbangun dari bebatuan bernuansa abad pertengahan. Sedikit di depannya, ada bangunan modern dan besar, The Forum. Disinilah BBC Norwich berkantor. Dibaliknya menyembul menara balaikota Norwich, dengan jam di puncaknya. Lalu aku pun melewati gedung Royal Theater, dengan berbagai poster tertempel. Nampak sudah taman Chafelfield, dan puncak gereja Kathedral di kejauhan.

Aku berbelok ke kiri. Disanalah Mesjid Al Ihsan. Tak jauh darisana, sedang berlangsung pembangunan besar sebuah mal Chafelfield, yang akan menjadi pusat belanja termegah di Norwich.

Al Ihsan, rumah kebajikan. Inilah salah satu mesjid kebanggaan warga muslim di Norwich. Apalagi letaknya di kawasan mahal, dan yang terpenting sebelumnya bangunan ini adalah gereja. Masjid yang terletak di jalan Chapelfield East ini sebentuk bangunan ala Victoria dengan ciri khas dinding batu bata merah dengan ornamen hiasan yang indah. Berada di dalamnya terasa nyaman dan tenteram.
Sudah hampir 30 tahun, bangunan ini berfungsi sebagai mesjid. Tadinya, ini adalag bagian dari gereja Chapel-in-the-Fields, yang dibongkar pada awal 1970, karena jemaah yang semakin berkurang. Adalah Adel Azzam, seorang warga Mesir yang menyulapnya menjadi Rumah Allah. Tahun 1977, Azzam datang ke Norwich. Ia terkesan dengan kehidupan di kota Norwich, yang tenteram dan damai.

Ia lalu berencana tinggal, dan mendirikan sebuah mesjid. Kebetulan ia mengemban wasiat ibunya, yang meminta seluruh uang tabungannya disumbangkan untuk membangun mesjid. Yang pasti, di tahun 1977, Adel Azzam, seorang warga Mesir, yang sangat terkesan dengan komunitas masyarakat Norwich, membeli bangunan itu dan membangunnya menjadi Mesjid. Mesjid itu pun dinamai Al Ihsan, sesuai nama keluarga ibunya.

Saat ini, ada ada kurang lebih 50 keluarga yang merupakan jemaah tetap mesjid ini. Sedangkan setiap salat Jum’at selalu dipenuhi paling tidak 300 jemaah. Karena lokasinya yang didekat pusat kota, banyak jemaah yang mampir,l setelah menghabiskan waktu di kota. "Kalau Anda datang waktu salat Jumat, Anda akan bertemu Muslim dari Scotlandia, Irlandia, Libya dan sebagainya, " kata Sean White, seorang jemaah masjid Ihsan, yang juga pimpinan proyek Community Media. Organisasi ini bekerja untuk memberi akses informasi yang lebih luas kepada publik.

Sean bekerja sama dengan sekelompok relawan faham teknologi informasi, sedang berusaha mengumpulkan cerita tentang sejarah gedung ini. Mereka juga akan merekonstruksi bangunan aslinya dalam bentuk keping CD-Rom yang akan dipublikasikan. Mereka ingin tahu sejarah perjalanan mesjid, dari gereja menjadi mesjid, dan sejauh apa perubahan tata bangunannya. Arsip-arsip di kantor pemerintah lokal Norwich maupun di perpustakaan dibongkar, juga cerita mulut ke mulut dari senior citizen. "Yang kami tahu, bangunan ini dulu merupakan bagian dari gereja dan dipakai sebagai sekolah gereja. Tapi kami terus menambah cerita, dengan menanyai orang yang dulu pernah bekerja disini ataupun sering mengnjungi tempat ini,” lanjut White. Rencananya, hasil rekonstruksi gambar ini, akan dipublikasikan musim panas, Mei nanti.

Sementara, Amal Douglas, direktur pusat pengetahuan Islamic Norwich, mengatakan, bangunan tersebut memang dahulu merupakan bagian dari gereja. Dia mengutip buku sejarawan lokal Geogre Plunkett yang berjudul Rambles in Old Norwich, bahwa bangunan tersebut pertama didirikan tahun 1858 dan kemudian ditutup pada akhir tahun 1960 "karena jemaah gereja makin lama makin berkurang dan arus lalu lintas di sekitarnya makin padat, sehingga orang beralih pergi ke gereja lain ". Sebelum dibeli Azzam, bekas gereja ini tadinya akan diperuntukkan buat arena musik atau olahraga. Tapi karena untuk sarana olahraga tidak terlalu besar, sedangkan untuk sarana kesenian, terlalu dekat dengan Theater Royal, maka akhirnya disepakati dibongkar. Hingga akhirnya dibeli Azzam.

Kalau ditilik dari luar, bangunan ini tak kentara seperti mesjid. Tapi menurut Amal, ini justru bagus. Supaya orang punya asumsi, bahwa bangunan mesjid bisa bersinergi dengan bangunan di sekitarnya. Dan ini berarti imej baik buat Islam, yang harus lebur dengan orang sekelilingnya.

Menurut Amal, jemaah mesjid ini sebagian besar datang dari campuran warga kulit hitam, dan kulit putih. Sehingga, mereka yakin mesjid ini bisa menjadi pionir dalam mengembangkan Islam di kalangan warga kulit putih. Selain sarana ibadah, di mesjid ini juga diadakan diskusi tentang Islam, utamanya perkembangan Islam di Eropa. Bahkan mereka juga menggagas, Pekan Pasar Islam di pusat kota. Sebelum ini yang telah sukses menggelar pasar semacam itu adalah Perancis, dengan French Market. “Kenapa tidak, dengan Andalusian Market,” kata Amal.

Warga Muslim Norwich berkeinginan kuat untuk menjadi bagian integral kota Norwich. Bukan sekedar imigran yang menumpang hidup bak pengungsi. Seperti kata Sean White. “Opini warga, muslim adalah Arab, dan Arab itu adalah teroris”. White dan Amal Douglas adalah warga Inggris asli, yang besar di London, dan kini menetap di Norwich.

Mesjid Bangladesh NorwichSelain mesjid Al Ihsan, Norwich juga memiliki mesjid yang digerakkan oleh komunitas Bangladesh, yang sebagian besar pedagang. Mesjid ini terletak di dekat stasiun kereta api Norwich. Masih dekat pusat kota, tapi di sisi yang berlawanan dengan Al Ihsan. Bangunan ini terselip di antara gedung lain, sehingga tidak kentara sebagai mesjid. Satu-satunya penanda adalah bingkai kaca jendelanya yang dibuat melengkung menyerupai kubah, serta Plang kecil tertempel di dinding nyaris tak terlihat. Mesjid Bangladesh, demikian orang menyebutnya, terletak bersebelahan dengan amusement, tempat main bilyar, jackpot, dan kasino.


Warga muslim Bangladesh di Norwich, sebagian besar menjadi penjaja rempah-rempah, dan membuka restoran. Setiap Jumat mereka kesulitan untuk melaksanakan salat Jumat, sehingga berdirilah mesjid ini 4 tahun lalu. Jemaah mesjid ini sekitar seratus orang setiap jumatnya. Mesjid ini juga berfungsi sebagai pusat pendidikan bagi perempuan dan anak-anak pada akhir pekan. Sehingga dinamai juga East Anglian Islamic Center, sekaligus Pusat Kesejahteraan warga Bangladesh di Norwich.

Mesjid UEAHalal Butcher

Satu lagi mesjid di Norwich adalah mesjid kampus Universitas East Anglia. Mesjid ini terletak di kampus, dan jemaahnya sebagian besar mahasiswa dan pekerja dari negara-negara Arab, Afrika, Malaysia, dan Indonesia. Juga tak besar. Terletak di areal parkir, menyerupai kontainer yang disusun. Layaknya bagian dari kegiatan kampus, di mesjid ini banyak kegiatan diskusi ilmiah dan pengajian untuk anak-anak. Pada hari jumat, mesjid juga berfungsi sebagai pasar makanan halal. Setidaknya ada 2 mobil yang datang untuk menjual ayam, daging, sosis berlabel halal.

Meskipun hanya ada tiga mesjid di seantero kota Norwich, keberadaannya cukup menjadi penawar ditengah hingar bingarnya kehidupan duniawi. Karena letaknya saling berjauhan, tak pernah ada suara azan sahut menyahut, seperti di tanah air. Allahu Akbar.

Scream of the innocents